Penganan Ekstrim Tempo Dulu


KOTA MADIUN – Ini sekadar berbagi cerita di akhir pekan. Madiun, tahun 1975-an lalu saat saya masih kecil, saya belajar berburu dengan istilah jungle survival –atau bertahan di dalam hutan– dari teman-teman kampung saya di Madiun.

Jika di tahun 1975-an para orangtua kebingungan bagaimana caranya memberi makan kepada keluarganya, maka kami anak-anak kecil sama sekali tidak merasa sedih dan berusaha untuk mencari makanan atau snack kami sendiri, yang tersedia secara gratis dari alam sekitar.

Kami anak-anak waktu itu mudah sekali mencari mbug-mbug di sela-sela akar pohon turi. Mbug-mbug adalah sejenis ulat yang senang sembunyi di akar pohon turi. Pohon turi juga penghasil kembang turi yang amat sangat sedap dibuat sayur campuran pecel.

Warna mbug-mbug ini merah muda, sebesar jempol anak kecil, kira-kira berdiameter 1 sentimeter dengan panjang 8 sentimeter. Ulat itu penuh protein. Cara memakannya cukup kami bakar dengan kayu yang kami dapatkan dari sisa-sisa pohon yang mengering. Atau dibawa pulang dan meminta ibu menggorengnya. Rasanya mirip, bahkan kalau tidak lebih enak, daripada udang.

Sebenarnya makanan yang enak tidak hanya mbug-mbug. Ada lagi sejenis kumbang kecil yang banyak terdapat di lapangan di kota Madiun, yang disebut katimumul. Lebar katimumul ini 4 milimeter dan panjangnya 1 sentimeter. Biasanya, kalau malam, katimumul keluar dari lubangnya. Kita tinggal membawa nampan untuk menangkapnya. Biasanya, sekali berburu, satu orang teman akan mendapat sekitar 1 ons katimumul. Bila digoreng, rasanya, hm, sangat lezat karena banyak protein yang dikandungnya.

Di hari-hari pertama musim hujan di Madiun tahun 1975-an, banyak rayap yang bermetamorfosis menjadi laron. Laron ini akan terbang mencari cahaya, sehingga setiap lampu yang ada di malam hari akan diserbu ribuan serangga ini. Cara menangkap laron dengan mengambil tampah yang diletakkan di lantai, dan di tengah-tengah tampah diletakkan lampu minyak.

Kebiasaan di tahun 1975-an, di dekat lampu minyak bisa diletakkan rantang yang diberi air. Banyak pula laron yang tertarik mendekati lampu, akhirnya tercebur di rantang berisi air. Kalau sudah begitu, kita tinggal menanggalkan sayap-sayap laron dan mengumpulkan badan laron yang gemuk-gemuk ini.

Satu malam kadang-kadang akan tertangkap 2 ons laron. Biasanya kami goreng dan rasanya, ehm, sangat gurih dan banyak mengandung protein. Malah, kadang-kadang ada tetangga yang sangat pintar menangkap laron, besoknya mengirim makanan berupa peyek laron.

Waktu kecil banyak juga makan walang alias belalang. Sekali lagi, karena kala itu pestisida belum banyak digunakan oleh petani. Populasi belalang berkembang amat pesat, sehingga pada suatu waktu banyak belalang yang hinggap di pohon turi, pohon pisang, dan pohon mangga di kebun sekitar rumah saya. Kami mudah menangkapnya. Saking banyaknya, kami mencoba coba menggorengnya dan ternyata enak, walaupun ada rasa sangit sedikit.

Zaman bergeser, kebiasaan pun berubah. Sekarang kebiasaan berburu kuliner tradisional sekaligus mencari kesenangan itu sepertinya menjadi sesuatu yang ”saru” untuk dilakukan. Tapi, terlepas dari cara pandang itu, pengalaman “berburu” masa lalu itu banyak manfaatnya. Sekali waktu bisa juga dicoba, dengan catatan singkirkan dulu rasa jijik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: